Tab

Ticker

6/recent/ticker-posts

REVIEW - TUNGGU AKU SUKSES NANTI

 

Selain sebagai ajang berkumpul bersama sanak saudara, momen Lebaran acap kali menjadi sebuah momok menakutkan bagi sebagian orang. Silaturahmi bisa saja secepat kilat berubah menjadi ajang pamer pencapaian dan prestasi. Beragam pertanyaan semisal "Kapan mendapat kerja?", "Kapan nikah?", "Anak tante sudah bekerja di perusahan ini, kamu kapan?" senantiasa terucap dari bibir mereka yang urung mengucapkan kata maaf. Tunggu Aku Sukses Nanti karya sutradara Naya Anandita seolah hadir untuk membungkam pertanyaan tersebut.

Paruh pembukanya berjalan episodik, menampilkan momen lebaran yang berlangsung dari tahun ke tahun, di mana Arga kecil (Farrel Rafisqy) kerap mendapatkan perlakukan tak adil dari keluarga besarnya, utamanya Tante Yuli (Sarah Sechan) yang kerap mengolok-olok perilaku serta membandingkannya engan para sepupu. Dari raut wajahnya, penonton sudah paham betul bahwa Arga kecil mengalami trauma hebat yang urung ia lampiaskan.

Singkat cerita, Arga (kini diperankan oleh Ardit Erwandha) masih saja mengalami perlakuan yang sama kala momen Lebaran tiba. Apalagi, di usia 28 tahun ini, ia masih saja belum mendapatkan pekerjaan. Celetukan dan sindiran dari para tante, temasuk tante Yuli pun masih terjadi. Setelahnya, naskah garapan Evelyn Afnilia akan menampilkan jatuh bangun Arga dalam mencari pekerjaan demi membeli omongan keluarga yang kerap merendahkan.

Pasca pontang-panting melakukan interviu, Arga akhirnya diterima di sebuah perusahaan properti. Momen kala Arga mengecek jumlah saldo yang kian berubah mengundang tepuk tangan meriah dari penonton. Kedekatan representasi seperti ini senantiasa membungkus Tunggu Aku Sukses Nanti yang sukses mewakili "Arga-Arga" di luar sana yang masih berjuang menjemput mimpinya.

Ketimbang sebagai sebuah proses berarti, Tunggu Aku Sukses Nanti mungkin akan terkesan kalkulatif karena fragmen cerita otomatis hanya mengangkat perjuang yang pernah (atau akan) dilakukan para penontonnya dalam masa hidupnya. Semisal meminta restu kepada keluarga, membagi gaji pertama kepada orang tua, hingga perlahan berhasil menghapus daftar keinginan yang akhirnya terpenuhi. Sekali lagi, kedekatan representasi seperti ini mudah untuk menyulut atensi bahkan simpati.

Demikian pula dengan interaksi Arga bersama kedua temannya, Wicak (Reza Chandika) dan Fanny (Fita Anggraini) yang terasa lebih dekat dan natural. Relasi mereka menggambarkan bagaimana sahabat terkadang menjadi orang yang lebih mudah menerima ketimbang keluarga. Berkat performa para pelakonnya, utamanya Reza Chandika yang piawai melempar coming-timing paripurna, betah rasanya berlama-lama duduk bersama mereka yang seketika mengingatkan kita akan ketulusan seorang sahabat yang selalu ada dalam suka dan duka.

Ardit Erwandha adalah bintang utama sesungguhnya. Kepiawaiannya dalam memerankan Arga sebagai sosok lelaki kelas menengah begitu terasa hanya lewat sorot dan paras wajahnya, pun kala ia dituntut untuk bermain drama, degradasi emosi yang ia tampilkan terasa nyata. Bom waktu yang selama ini dipendam oleh Arga akhirnya meledak di tempat yang seharusnya.

Sementara itu, Lulu Tobing sebagai ibu Arga sempurna mewakili sosok yang selalu mendukung dan memeluk hangat anak tercinta, momen kala Arga membagikan gaji pertama adalah satu dari sekian momen yang akan meruntuhkan tembok perasaan. Ariyo Wahab pun demikian, di balik diamnya seorang ayah, menyimpan setumpuk dukungan yang urung padam. Adzana Ashel sebagai Alma, adalah sosok penenang yang hadir dalam bentuk adik yang suportif; sementara Niniek L. Karim adalah figur nenek yang diam-diam menangis kala sang cucu akhirnya menemukan rona bahagia, tangisan di bahu adalah bentuk cinta tulus seutuhnya.

Bukan sepenuhnya tanpa cela, Tunggu Aku Sukses Nanti terlampau menyederhankan perjuangan Arga yang mungkin terasa instan. Demikian pula dengan keputusan naskahnya yang terkendala perihal logika kala menampilkan sebuah proses yang memutarbalikan perjuangan Arga ke titik nadir. Perusahaan mana yang seketika memecat karyawannya berbekal tuduhan sederhana tanpa mengecek terlebih dahulu kejadian sebenarnya? Untungnya hal minor seperti ini tak lantas mengganggu progresi cerita.

Memasuki babak ketiga, Tunggu Aku Sukses Nanti mulai kelimpungan dalam menutup adegan. Alhasil, dihadirkanlah sebuah kejutan dengan pembawaan terburu-buru seolah kehilangan jalan untuk memberikan opsi yang lebih sepadan. Saya paham, jalan pintas seperti ini sengaja dilakukan demi memberikan kesan "sesungguhnya" agar tak lantas membenci salah satu anggota keluarga. Sebuah keputusan yang mungkin terkesan cacat (karena sesungguhnya figur demikian di luar sana belum tentu memiliki intensi dan motivasi yang sama) dan sulit untuk dibenarkannamun dapat dipahami.

Naya Anindita mungkin tak membeli "omongan mereka" secara menyeluruh, melainkan mengembalikan semuanya pada sebuah proses "penerimaan". Konklusinya menampilkan hal tersebut lewat sebuah momen sederhana yang membawa dampak luar biasa, mungkin sudah saatnya bagi Arga (dan juga kita) berhenti sejenak mengejar keinginan yang berada di luar kendalihanya untuk menikmati hal sederhana di depan mata yang sejatinya membawa kepingan bahagia.

SCORE: 3.5/5 

Posting Komentar

0 Komentar