Tab

Ticker

6/recent/ticker-posts

REVIEW - LIFT

 

Judulnya mengacu pada ruang sempit tempat penghakiman para karakternya, di mana segala dosa masa lalu terkuak tanpa pernah diundang keberdaannya. Premis sederhana ini nyatanya menyimpan sebuah potensi dalam menghadirkan sebuah tontonan presisi, meskipun di saat yang bersamaanterkesan tricky. Apa yang ditawarkan oleh Lift setidaknya patut diapresiasi, mengingat dalam khasanah perfilman Indonesia, genre thriller ruang sempit sangatlah langka. Setidaknya terdapat usaha untuk memberikan pembaruan.

Kisahnya sendiri menyoroti Linda (Ismi Melinda), seorang ibu tunggal sekaligus staf humas PT Jamsa Land yang tengah berada di puncak kariernya mendapati dirinya terjebak dalam sebuah lift bersama Anton (Max Metino); mantan jurnalis yang kini alih profesi sebagai podcaster. Dalam ruang sempit tersebut, mereka dipaksa untuk mengikuti arahan dari Mr. X (Alfie Afandy) yang mengendalikan situasi lewat interkom. Dari sinilah penghakiman atas dosa masa lalu dimulai.

Ditulis naskahnya oleh Aria Gardadipura (beliau adalah reviewer dari kanal YouTube Cine Crib), Lift menyimpan setumpuk pesan yang ingin disampaikan, utamanya berupa kritikan tajam maupun satir terhadap pemerintah yang lalim. Dialog yang disusun oleh Aria sarat akan retorika terhadap apa yang terjadi pada negeri ini. Tak ayal jika umpatan bernada politis semisal Ibu Kota Baru Negara (IKBN), tukang kayu, hingga sikap para penguasa yang gemar akan pemandangan tubuh wanita turut dijejalkan. Alhasil, apa yang ingin disampaikan terasa penuh sesak dan beriak. 

Sebagaimana peribahasa Indonesia mengatakan "air beriak tanda tak dalam" demikian pula dengan apa yang terjadi pada guliran naskahnya yang sebatas menghentak tanpa pernah terasa padat. Hal ini disebabkan oleh eksposisi yang terlampau berlarut-larut dalam bertutur. Demikian pula dengan kegemaran filmnya untuk menghasilkan nuansa misterius, utamanya dalam menampilkan para karakternya, semisal Doris (Shareefa Daanish), istri dari Hensen (Verdi Solaiman) sang pemilik perusahaan, yang alih-alih memberikan pay-off memadai malah menciptakan kesan hiperbolis tak berarti. 

Lift membagi filmnya dalam empat babak (pion, permainan, perdebatan, dan skakmat) di mana babak tersebut menyerupai pola permainan dalam catur yang saling menjatuhkan demi kekuasaan. Demikian pula intensi para tokohnya yang tengah menuntut, berjuang, dan bertahan dalam sebuah lingkaran setan mematikan. Sayang, transisi antar adegan terasa kurang mulus dalam menjahit satu kesatuan yang utuh, entah ini perihal penyuntingan yang buruk ataupun naskah yang tak kontuniti.

Biarpun demikian, saya tetap menyukai penyutradaraan Randy Chans yang berani mendobrak batas, meskipun hal tersebut masih dipenuh pekerjaan rumah yang tak sedikit. Randy memastikan tiap kesakitan yang dirasakan oleh tokohnya terasa nyata, semisal mendorong karakternya untuk melakukan hal gila yang berujung meregang nyawa. Ditemani iringan musik gubahan Budi Drive Rahardjo, Lift cukup efektif dalam mengatrol napas penonton.

Paruh ketiganya tampil liar. Randy menambahkan deretan aksi (yang meski minim) lewat permainan sederhana yang tak takut untuk menambahkan citra kelam bagi konklusinya. Melihat Ismi Melinda dan Shareefa Daanish saling beradu jotos dengan performa over-acting adalah sesuatu yang cukup untuk mengundang atensi di tengah keseluruhan cerita yang enggan untuk berkembang dan sarat simplifikasi.

SCORE: 3/5 

Posting Komentar

0 Komentar