Butuh waktu delapan tahun guna merealisasikan sekuel bagi Kafir: Bersekutu dengan Setan (2018). Setali tiga uang dengan pernyataan tersebut, filmnya pun mengambil latar satu dekade pasca kejadian di film pertama. Masih dinahkodai oleh Azhar Kinoi Lubis selaku sutradara bersama Upi (dibantu Dea April) sebagai penulis naskah, Kafir: Gerbang Sukma membawa teror baru bagi keluarga Sri (Putri Ayudya) yang (masih) kembali dihantui dosa masa lalu.
Sri masih saja percaya akan hal klenik, semisal selalu memastikan benda yang ia pajang di dalam rumah dengan alasan—demi melindungi kedua anaknya, Dina (Nadya Arina) dan Andi (Rangga Azof), yang kini telah melanjutkan hidup dengan menikahi Rani (Asha Assuncao). Hingga sebuah telepon datang, mengabarkan bahwa orang tua Sri (diperankan oleh Arswendy Bening Swara dan Mutia Datau) tengah sakit parah, memaksa Sri dan keluarganya mengunjungi mereka.
Sebagaimana yang telah dipamerkan oleh poster dan trailernya, Kafir: Gerbang Sukma menempatkan para lansia sebagai salah satu penebar teror. Tingkah laku serta kebisaan aneh yang mereka lakukan mengindikasikan sebuah petaka bagai para tokohnya. Kakek yang bermandikan darah di tengah hutan hingga Nenek yang menyajikan santapan makan busuk hingga lupa menyalakan kompor ketika memasak adalah pemandangan jamak yang sering kita temukan dalam film horor urus utama. Sederhanya, Kafir: Gerbang Sukma memang enggan mendobrak pakem dan memilih setia terhadap pola usang yang kerap digunakan.
Biarpun demikian, pemandangan seperti itu tetap menyulut perhatian bekat kepiawaian para pelakonnya, Arswendy Bening Swara dan Mutia Datau adalah figur sempurna yang mampu menguarkan kengerian dan ketakutkan berbekal senyum simpul dan tawa mereka, sementara Putri Ayudya masih piawai beroleh peran, beragam emosi yang tersulut ia sampaikan dengan penuh keyakinan.
Di departemen penyutradaraan, Azhar Kinoi Lubis memang enggan mengutak-atik pakem, dilipatgandakannya kesan familiar tersebut guna menghadirkan serangkaian teror yang meski tampil efektif, namun tak jarang terasa melelahkan. Tak cukup sampai di situ, Kinoi pun menambahkan beberapa pemandangan menjijikan di berbagi kesempatan dengan mengandalkan binatang hingga organ tubuh manusia yan disalahgunkan.
Kemonotonan alur hingga trik menakutinya memang sulit dihindarkan. Biarpun demikian, bagi penonton yang melupakan cerita di film pertama, Kafir: Gerbang Sukma mampu memberikan sebuah rekapan dengan cara yang cukup brilian dan masuk akal, hal itu ditampilkan dengan mulus ketika Rani, yang notabene-nya orang luar menanyakan asal-usul keluarganya kepada sang suami.
Jikalau ada yang mesti diapresiasi secara lebih adalah keberanian Kinoi membungkus konklusi filmnya yang setidaknya lebih superior dibandingkan film pertamanya (meski poster dan trailer yang dijadikan sebagai bahan promosi terlampau boros menampilkan adegan sarat urgensi) yang mampu menampilkan kesan cukup berani, menyentuh ranah vulgarisme hingga menambahkan kesan tragis bagi filmnya memang sebuah keputusan yang tepat. Sayang, penyutradaraan yang cenderung canggung menghalangi keliaran visi yang berpeluang tampil gahar. Biarpun demikian, Kafir: Gerbang Sukma mampu menampilkan sebuah hentakan—meskipun sangatlah pelan.
SCORE: 3/5

0 Komentar