Waralaba Masti (dalam bahasa Indonesia berarti kesenangan) memang tak pernah habis dalam memberikan sebuah kesenangan (dalam meraup pundi finansial) yang masih berkutat perihal komedi bawah celana yang kian merajalela. Setelah Great Grand Masti (2016) dengan sedikit bumbu horor (atau lebih tepatnya eksploitasi tubuh seksi Urvashi Rautela), Mastiii 4 mungkin tak memberikan modifikasi, namun upaya untuk kembali menuju jati diri tersebut justru membawa filmnya menjadi tak tahu diri.
Saya paham betul naskah buatan Farrukh Dhondy bersama sang sutradara, Milap Zaveri hanya sebatas aksi bersenang-senang tanpa memikirkan tetek-bengek aspek filmis, namun ada jurang pembeda bernama logika yang tak pernah dipakai filmnya. Ketika sinema arus utama Bollywood kian menampilkan taringnya dalam hal menyentil isu sosial dalam balutan komedi berisi, Mastiii 4 justru terkesan haus validasi dan tertinggal jauh dibandingkan para kompatriotnya.
Lelucon bernada misogini masih lalu-lalang menghiasi sepanjang durasi, di mana para karakter wanita hanya sebatas manusia dengan IQ rendah—yang menjadi alasan utama para lelaki untuk melakukan masti. Bindiya (Elnaaz Norouzi), yang hanya mementingkan lipstik dan amal ketimbang sang suami, Amar (Riteish Deshmukh); Aanchal (Shreya Sharma) yang selalu curiga dan memasang alat deteksi detak jantung kepada Meet (Vivek Oberoi); dan Geeta (Ruhi Singh) si penganut agama yang selalu membuat kesal Prem (Aftab Shivdasani).
Berdasarkan saran dari Kamraj (Arshad Warsi), ketiganya nekat mengajukan "visa cinta" dalam upaya menjaga keutuhan rumah tangga dari kebosanan, di mana dalam waktu seminggu, para suami akan melakukan masti dan melupakan statusnya guna bersenang-senang dengan wanita sesuka hati.
Premis yang cukup berani untuk ukuran film komedi ini hanya sebatas menjadi penggerak cerita alih-alih memberikan sebuah kedalaman (yang tak diharapkan untuk film jenis ini) atau setidaknya memberikan sebuah kesenangan sebagaimana judulnya utarakan. Sayang, kesempatan ini hanya dijadikan sebagai kompilasi tak tahu diri dengan bumbu komedi yang terlampau usang. Ketimbang gelak tawa, Mastiii 4 justru ampuh menyulut gelak hina berbekal lelucon cringey yang jelas sudah ketinggalan zaman.
Persona trio Deshmukh-Oberoi-Shivdasani jelas kekurangan energi, terlebih kala mereka dipaksa menghadirkan kekonyolan dari beragam lelucon tak tahu diri berbekal komedi situasi. Beragam usaha yang mereka lakukan jelas tampil sia-sia dalam rangka menciptakan sebuah momen yang layak hanya diunggah di media sosial ketimbang layar bioskop. Kapan terakhir kali sebuah film menjadikan aksi "tamparan refleks" hingga "gigi palsu" sebagai bahan penyulut tawa?
Seolah takut tak memberikan sebuah implikasi, Mastiii 4 membalikkan konflik utama dengan memberi kesempatan kepada para pelakon wanita untuk merasakan sebuah kesenangan. Slogan girl's just wanna have fun dimainakan, kini giliran para lelaki membatalkan rencana mereka yang kemudian dianggap oleh para pembuatnya sebagai aksi heroik. Sungguh sebuah salah kaprah yang mencurangi naskah.
Dari sini, twist yang tak mempunyai harga diri tersebut digaungkan dan dianggap mulia oleh para wanita. Kesempatan untuk memberikan sebuah dendam justru ditinggalkan. Selanjutnya hanyalah tumpukan demi tumpukan lelucon tak tahu diri yang turut diperluas seiring hadirnya tokoh Pablo Putinwa, seorang gangster hasil one night stand berdarah India-Rusia yang dimainkan oleh Tusshar Kapoor. Sampai titik ini, Mastiii 4 adalah sebuah inkonsistensi atas nama komedi.
SCORE : 1.5/5

0 Komentar