Sejatinya, Alas Roban dibuka secara meyakinkan, seolah memberikan sebuah pembaruan bagi film horor lokal yang dirilis awal tahun. Tak banyak horor yang berani menambahkan unsur road-trip sebagai pembuka filmnya, setelahnya secara perlahan namun pasti, kamera mengikuti gerak-gerik para penumpang yang melewati jalur angker tersebut, sementara lagu Bintang Kehidupan milik mendiang Nike Ardila dimainkan secara pelan, seolah menjawab makna tersirat dari lirik lagu yang multitafsir tersebut.
Mengambil urband legend mengenai tanjakan curam di Kabupaten Batang, Jawa Timur, di mana jalanan tersebut dikenal sebagai salah satu lintasan paling angker di Pantura, paruh awal Alas Roban bak sebuah gambaran mengerikan yang akan mengendap lama di pikiran, belum lagi filmnya pun secara konsisten membawa beberapa mitos yang dipercayai oleh masyarakat setempat, semisal membuang koin tatakla melewati jalur sebagai salah satu cara menghalau marabahaya. Sebuah sudut pandang menarik, mengingat di Indonesia, banyak sekali kepercayaan terhadap mereka yang tak terlihat.
Setelahnya, kita berkenalan dengan Sita (Michelle Ziudith), seorang ibu tunggal yang turut memboyong anak semata wayangnya, Gendis (Fara Shakila) ke Semarang demi memperbaiki taraf ekonomi keluarga sekaligus mendapatkan biaya operasi mata Gendis yang mengidap katarak. Pasca gagal mendapatkan bus tujuan Semarang, Sita nekat menumpang bus lain demi tiba tepat waktu, nahasnya, perjalanan malam tersebut harus melewati jalur Alas Roban, jalan dengan tikungan tajam yang banyak merenggut korban jiwa.
Tak butuh waktu lama bagi filmnya untuk menampilkan mitos tersebut secara nyata, dimulai dari sang sopir (diperankan oleh Agus Kuncoro dalam screen-time singkat, namun berkesan) yang mendapati jejak telapak tangan penuh darah hingga datangnya monyet putih sebagai tanda bahaya, perjalanan melewati jalur angker tersebut berhasil dilalui, namun meninggalkan sebuah keanehan pasca Sita mengantar Gendis singgah untuk buang air di sebuah warung di dalam hutan, yang menurut masyarakat tempat itu nyatanya tak pernah ada.
Setelahnya, naskah garapan Evelyn Afnilia (trilogi Pamali, Munkar, Almarhum) meninggalkan segala tetek-bengek tadi dengan memindahkan lokasi utama ke rumah, seiring perkenalan penonton dengan Bude Tika (Taskya Namya), sepupu Sita. Dari sini, Alas Roban kembali ke jalur menerapkan segala trope milik horor arus utama.
Beruntung, pengadeganan Hadrah Daeng Ratu yang sudah menggarap banyak film horor cukup jeli memainkan rasa takut walaupun berbekal trik sederhana. Setidaknya, Alas Roban memiliki satu hingga dua jumpscare efektif, salah satunya yang melibatkan permainan petak umpet di dalamnya. Selain faktor pengarahan yang kompeten, filmnya pun ditunjang tata rias mumpuni bagi deretan sosok hantu, salah satunya entitas berwujud nenek tua yang tampil dalam trailernya, berbekal sorot mata dan senyum lebar, setiap kehadirannya menguarkan rasa takut yang menghantui pikiran.
Selain itu, fakta yang benar-benar baru adalah jumlah dukun maupun orang pintar yang dimiliki oleh filmnya terbilang banyak, terhitung sejak tulisan ini ditulis, Alas Roban memperkenalkan serta memgklasifikasikan jenis orang pintar tersebut dari yang hanya berbekal air doa hingga pagelaran ritual wayang Jawa. Sebuah pemandangan yang cukup unik, meski tak lantas mengangkat derajat filmnya lebih tinggi (jika tak ingin dibilang terlampau malas).
Seiring durasi bergulir, otomatis naskahnya hanya mengandalkan upaya seorang ibu menyelamatkan anaknya. Entah sudah berpa kali premis yang usang ini kian direpetisi. Setidaknya, chemistry Michelle Ziudith dan Fara Shakila tampil meyakinkan, performa mereka mampu menguatkan penonton bertahan sepanjang durasi yang perlahan memudar, terlebih filmnya sempat terjebak pada pola stagnansi berupa pencarian dukun-gagal-ulangi.
Konklusinya pun tampil "main aman" yang dengan sengaja mengemis isak tangis penonton lewat pengorbanan atas nama cinta. Saya tak mempermasalahkan hal demikian dengan catatan mampu tersampaikan dengan baik, namun apa yang ditampilkan Alas Roban terlampau sederhana, sesederhana peran Imelda Therinne sebagai Dewi Raras, penguasa Alas Roban, ataupun peran Rio Dewanto sebagai Anto, teman kerja Sita yang berjuang melawan trauma. Simplifikasi semacam ini sayangnya terlampau menjangkiti keseluruhan filmnya.
SCORE : 2.5/5

0 Komentar