Saya selalu (dan akan terus begitu) mengapresiasi bagaimana sineas tanah air memberikan sekaligus menawarkan variasi baru bagi khasanah perfilman Indonesia. Kesuksesan Jumbo tahun lalu memberikan sebuah sinyal kuat bahwa sineas kita mampu melakukannya—berbekal semangat dan kerja keras yang tinggi. Di saat yang bersamaan pula, hadir Na Willa yang memberikan perspektif lewat kacamata anak-anak. Pelangi di Mars menambah daftar tersebut dengan memberikan sebuah sajian fiksi ilmiah dengan pendekatan teknologi hibrid masa kini, sebuah kesempatan yang patut untuk dirayakan.
Namun, sebagaimana yang telah kita ketahui apresiasi saja tidaklah cukup apabila tak dibarengi dengan pengadeganan mumpuni. Sayang, Pelangi di Mars belum mampu memberikan hal tersebut, visual yang dikerjakan kurang lebih selama 6 tahun memang menghasilkan dampak yang signifikan, namun tidak demikian dengan penceritaan yang dinomorduakan.
Alkisah, tahun 2090 bumi mengalami krisis air mineral akibat pencemaran serta campur tangan korporasi perusahaan bernama Nerotex. Para ilmuwan kemudian membentuk sebuah koloni di Mars dengan harapan dapat memberikan sebuah harapan baru guna menyelamatkan bumi dari kerusakan. Pratiwi (Lutesha) adalah satu dari sekian yang dikirim ke Mars guna menjalani misi tersebut. Misi Pratiwi adalah untuk menemukan Zeolith Omega, mineral langka yang konon dapat memurnikan dan menjernihkan air.
Di luar misi tersebut, Pratiwi mendapati dirinya tengah hamil. Ia kemudian melahirkan seorang anak perempuan pertama di Mars yang kemudian bernama Pelangi (Myesha Lin). Ditemani robot baik yang hanya berbentuk kepala, Batik (Bimo Kusumo Yudo), misi untuk menyelamatkan Bumi selalu diupayakan—yang pada akhirnya turut menewaskan Pratiwi.
Selang enam tahun, Pelangi (kini diperankan oleh Messi Gusti) terus mencari keberadaan Zeolith Omega bersama Batik, yang kini sudah memiliki struktur tubuh yang lengkap. Jangan harap terdapat upaya maupun penjelasan berlebih mengenai transformasinya, Pelangi di Mars dengan enteng mengatakan dengan lantang bahwa ia berstatus sebagai "film anak" yang menurutnya tak memerlukan eksposisi rapi.
Seiring perjalanan, Pelangi dan Batik nantinya akan bertemu dengan beberapa robot buangan yang turut meramaikan petualangan: Petya (Gilang Dirga) si robot Rusia, Sulil (Dimitri Arditya) si robot asal India, Yoman (Kristo Immanuel) si robot rasta, hingga Kimchi (Vanya Rivani) si robot asal Korea. Harapan untuk mengetahui latar belakang robot tersebut urung terlaksana, meskipun untuk memulai introduksi masing-masing robot, menelan durasi kurang lebih 50 menit yang nihil urgensi.
Ditulis naskahnya oleh Alim Sudio, Pelangi di Mars adalah sajian yang meremehkan penceritaan dan menggantinya dengan parade visual. Para pembuatnya abai dalam membangun dunia miliknya yang terkesan sebatas dibuat tanpa memberikan sebuah bangunan yang kokoh. Hal ini terjadi selepas paruh pertamanya yang kentara banyak memanfaatkan AI (sangat disayangkan). Tak lepas sampai di situ, interaksi masing-masing robot pun urung memberikan sebuah dampak signifikan, hanya berbekal dialog tumpang tindih yang di beberapa kesempatan sulit untuk mencerna apa yang hendak disampaikan.
Demikian pula dengan penyutradaraan Upie Guava yang tak memberikan sebuah presisi, sebatas menjahit adegan per-adegan hingga menciptakan sebuah transisi teramat kasar. Hal ini kentara sepanjang durasi, seolah para pembuatnya tak memahami apa yang hendak disampaikan. Belum pernah saya semuak ini selama menonton film, terlebih ini datang dari film yang dinanti kehadirannya.
Planet Merah memang luas. Demikian anggapan yang saya pegang tatkala filmnya mengenalkan masing-masing robot dari berbagai penjuru dunia. Namun, anggapan tersebut seketika luntur tatkala dialog hingga selorohan yang ditampilkan oleh masing-masing robot bak kerasukan Alif Cepmek berbekal celoteh "kamu nanyea?" atau "cek keranjang kuning". Saya paham, para pembuatnya ingin menyasar para generasi alfa dengan segala tren dan kultur TikTok masa kini, hingga dalam salah satu adegan turut pula disertakan lagu K-Pop yang membuat saya beberapa kali mengernyitkan dahi. Mungkin mereka lupa bagaimana menjadi anak-anak sebenarnya.
Petualangan yang diharapkan dapat memberikan sebuah pemandangan mengasyikkan pun urung didapat. Sekali lagi, ini akibat simplifikasi dari naskahnya yang menganggap "film anak". Menurutnya, visual cantik dan berwarna mencolok sudah lebih dari cukup untuk membuat anak-anak duduk manis menatap layar. Sungguh, sebuah pemahaman yang keliru.
Konklusinya pun cenderung curang dan main aman. Seketika terselesaikan begitu saja demi memunculkan Rio Dewanto dalam sebuah screen-time singkat yang kehadirannya meninggalkan setumpuk tanya tak terjawab. "Antiklimaks nih!", demikian ucap Yoman yang seolah mewakili keseluruhan filmnya. Sementara saya hanya bisa mengamini di dalam hati.
SCORE: 2.5/5

0 Komentar