Alih-alih dibicarakan sebagai salah satu waralaba yang dinantikan, Scream 7 mungkin akan dibicarakan akibat keputusan rumah produksi memecat secara tidak terhormat Melissa Barrera akibat terang-terangan menolak keras aksi genosida terhadap Palestina. Menyusul kemudian tak butuh waktu lama bagi sang kolega, Jenna Ortega dan sutradara Matt Bettinelli-Olpin dan Tyler Gillett untuk kemudian hengkang dari proyek tersebut. Alhasil, Paramount Pictures pun harus merombak naskah dan kembali mengajak sang tituler, Neve Campbell alias Sidney Prescott guna menyelamatkan waralaba ini.
Entah sebuah kutukan atau bukan, harus saya akui pembuka Scream 7 adalah salah satu yang paling lemah di antara waralaba lainnya. Seorang penggemar Stab bernama Scott (Jimmy Tatro) turut memboyong kekasihnya, Madison (Michelle Randolph) ke rumah Stu Macher (Matthew Lilliard) yang terkenal dan menjadi saksi bisu meregangnya para korban. Tentu, seperti di film sebelumnya (kecuali Scream requel version) kita akan mengetahui bahwa mereka akan tewas secara mengenaskan. Seperti yang telah saya singgung, kematian mereka urung memberikan sebuah dampak signifikan.
Selepas kejadian tersebut, Scream 7 menaruh fokus kepada Sidney Prescott (Neve Campbell) yang kini tinggal bersama sang suami, Mark Evans (Joel McHale) dan putri semata wayangnya, Tatum Evans (Isabel May). Pasca beberapa kematian yang menghebohkan Woodsbro, tak perlu waktu lama untuk Ghostface kembali menyatroni rumah mereka, memaksa Sidney kembali berhadapan dengan trauma terbesarnya, terlebih Ghostface kini mengincar Tatum.
Dibandingkan kedua film sebelumnya yang meletakan Sam Carpenter di garda terdepan, Scream 7 terasa nihil urgensi meskipun Kevin Williamson selaku sutradara menyeting Tatum sebagai scream queen selanjutnya. Bukan berarti Isabel May bermain buruk, melainkan tokohnya yang kurang diberi kedalaman lebih selain sebatas figur yang harus dibantu terlebih dahulu oleh sang ibu. Sederhananya, Tatum adalah sosok damsel in distress.
Ditulis naskahnya oleh Guy Busick bersama Williamson, haris diakui metode pembunuhannya memang jauh dari kesan baru, meski saya amat menikmati salah satu pembunuhan brutal miliknya (yang sebenarnya kalah jauh dari dua pendahulunya), utamanya yang melibatkan teater pertunjukan di mana Williamson tak malu-malu mengumbar usus yang terurai maupun tulang yang retak. Selebihnya, Scream 7 adalah sajian medioker yang intensitasnya kian mengendur.
Barulah semenjak kemunculan Gale Weathers (Courteney Cox) bersama kedua rekannya, Mindy (Jasmine Savoy Brown) dan Chad (Mason Gooding) tensinya perlahan naik. Secercah harapan pun muncul. Sayangnya, hal ini pun tak berlangsung lama akibat minimnya porsi Gale dalam penceritaan. Dari titik ini, saya pun sudah pasrah dan kehilangan minat untuk menebak sang pelaku utama.
Ketika momen tersebut akhirnya terungkap, minimnya pay-off membuat urgensi filmnya perlahan luntur. Pun, perlawanan yang dilakukan Sidney bersama Tatum pun tak lebih dari sekadar aksi usang yang dipaksa ditampilkan demi tercipta sebuah hiburan. Lagi pula apa yang diharapkan pada sebuah film yang turut memuja AI di dalamnya?
SCORE: 2.5/5

0 Komentar