Tab

Ticker

6/recent/ticker-posts

REVIEW - DANUR: THE LAST CHAPTER

 

Butuh waktu tujuh tahun guna merealisasikan pamungkas bagi waralaba Danur. Danur: The Last Chapter mungkin bukan adaptasi langsung dari novel hasil tulisan Risa Saraswati, melainkan sepenggal kisah hidupnya yang kini dijadikan sebagai pamungkas filmnya. Masih dinahkodai Awi Suryadi selaku sutradara bersama Lele Laila sang penulis naskah utama, apakah bab terakhir dari waralaba ini akan tampil memuaskan atau sebaliknya?

Risa (Prilly Latuconsina) sudah menutup kemampuannya di akhir cerita Danur: Sunyaruri (2019). Ia kini hidup normal dan menjalani rutinitas sebagai PNS di kota Bandung. Hingga sang adik, Riri (Zee Asadel) mulai menampakan gelagat aneh pasca dilamar sang kekasih, Dimas (Dito Darmawan) mendorong Risa untuk kembali sekali lagi berhubungan dengan dunia yang sudah lama ia tinggalkan.

Tak ada bau danur ataupun penampakan berarti yang menyulitkannya untuk mengetahui jawaban atas apa yang terjadi. Bahkan, dalam salah satu adegan ia kembali menyambangi orang pintar yang telah membantunya sejak kecil untuk sekadar berkonsultasi. Perlahan tapi pasti, Risa yang telah kehilangan penglihatan dan penciumannya harus merasakan kematian entitas yang selama ini selalu berada di dekatnya.

Harus diakui, The Last Chapter merupakan versi upgrade dari waralaba sebelumnya, terlihat dari tata visual dan praktikal yang cenderung mahal. Pun, premis "merasakan kematian" terdengar bak sebuah angin segar bagi naskahnya yang berani mendobrak kuantitas teror miliknya. Walaupun itu berarti, naskahnya masih mengandung "penyakit lama" yang kerap menjangkitibernama stagnansi.

Setidaknya, melihat Risa yang terus merasakan kematian Peter cs. secara bertubi-tubi adalah variasi yang tak pernah ada di waralaba sebelumnyaandai saja Awi Suryadi lebih menekan kualitas teror yang dihasilkan, Danur: The Last Chapter akan menjadi tontonan dengan kualitas berarti.

Lagi pula, seperti yang telah saya singgung sebelumnya, waralaba Danur bukanlah sajian yang dibuat secara asal-asalan. Para pembuatnya senantiasa memberikan kuantitas dan kualitas berlebih dalam segala lini. Sederhananya, mereka yang berada di balik layar paham betul bagaimana menuntaskan dahaga para penggemarnya (terbukti sampai tulisan ini dibuat, jumlah penonton waralabanya sudah menyentuh tujuh juta penonton dan akan terus bertambah).

Setelah Asih, Ivanna, hingga Kartika, kini giliran Canting (Anya Zen) yang mendapat sorotan lebih. Entitasnya sebenarnya telah diperkenalkan sejak Maddah (2018), The Last Chapter pun memberikan jawaban sekaligus alasan terhadap salah satu adegan yang ada di filmnya. Meskipun di banding "sosok" sebelumnya, tampilan Canting mungkin terlihat sederhana berbekal selendang dan kebaya Jaipong.

Bukan film Awi Suryadi namanya yang tidak memamerkan beragam trik visual selain kamera yang berputar (ini merupakan signature khas), beragam shot baru turut mewarnai filmnya yang membuatnya terkesan mewah (dan mahal), pun turut sumbangsih dalam memberikan sebuah dampak signifikan terhadap adegan, sebutlah penggunaan crash zoom menjelang konklusi filmnya.

Konklusinya tampil cukup mencekam, di mana parade visual dan penyutradaraan berkontribusi menghasilkan sebuah battle mengesankan. Permasalahannya hanya terletak pada durasinya yang terlampau buru-buru, alhasil terciptalah sebuah simplifikasi sebagaimana penyakit lama yang kian diulang kembali.

Alih-alih bertindak sebagai salam perpisahan, Danur: The Last Chapter lebih cocok disebut sebagai kisah tambahan yang belum terselesaikan. Lagi pula, segala minus yang dimiliki filmnya sudah saya duga kehadirannya. Sekali lagi, waralaba Danur bukanlah sajian yang buruk, melainkan sajian yang setia terhadap pangsa pasar utamanya. Terkesan konvensional memang, namun hal demikian bukanlah sebuah dosa selama mereka terus mencintainya bukan? Dari sini tujuan utamanya tersampaikan.

SCORE: 2.5/5 

Posting Komentar

0 Komentar