Tab

Ticker

6/recent/ticker-posts

REVIEW - SUZZANNA: SANTET DOSA DI ATAS DOSA

 

Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa merupakan adaptasi lepas dari Santet (1989) di mana almarhumah Suzzanna memerankan Katemi, perempuan yang mendapat ketidakadilan dan memilih membalaskan dendam. Luna Maya kembali memerankan Suzzanna (bukan Katemi) dengan riasan prostetik yang lebih halus ketimbang dua film sebelumnya. Kali ini kursi sutradara di pegang oleh Azhar Kinoi Lubis, yang pada tahun lalu produktif dalam menelurkan sajian horor.

Tak ada hantu maupun entitas layaknya Sundel Bolong, Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa adalah kisah mereka yang mendapat ketidakadilan akibat para pemimpin lalim. Desa Karang Setan, sebagaimana namanya dipenuhi oleh para setan dalam wujud manusia bengis bernama Bisman (Clift Sangra), lurah setempat sekaligus juragan bengis yang memaksa para rakyat untuk berhutang kepadanya. Tak hanya itu saja, ia kerap menebar ketakutan lewat para anak buahnya: Banteng (Budi Bima), Lawu (Iwa K.), dan Kawi (Andy/rif).

Semua masyarakat terpaksa tunduk, terkecuali Satriyo (El Manik), ayah Suzzanna (Luna Maya). Ketika Satriyo diminta masyarakat untuk maju menjadi calon lurah supaya menghalau Bisman agar tak jadi calon tunggal, tubuhnya mendadak panas dan melepuh, bahkan belut pun keluar dari tubuhnya. Pada waktu itu juga, Satriyo tewas secara mengenaskan.

Pasca kematian Suroh (Nunung), istri Bisman yang memberitahu Suzzanna perihal santet yang menyerang sang ayah, Suzzanna menjadi sasaran anak buah Bisman yang berujung pada sebuah kecelakaan. Beruntung, ia diselamatkan oleh Pramuja (Reza Rahdian) yang membawanya ke Nyi Gayatri (Djenar Maesa Ayu), dukun pengobatan yang ternyata mempelajari ilmu santet.

Kelak setelah sembuh Suzzanna akan menjadi penerus ilmu Nyi Gayatri demi membalaskan dendamnya kepada Bisman dan anak buahnya, terlebih sang ibu, Sutini (Yatti Surachman) menjadi korban opresi pasca hilangnya Suzzanna dan berujung meninggal.

Ditulis naskahnya oleh Jujur Prananto, Ferry Lesmana, dan Sunil Soraya, Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa setidaknya meluangkan waktu untuk bercerita. Tak ada jumpscare serampangan maupun demit yang berkeliaran, filmnya menjadikan kausalitas di atas segalanya. Keresahan dan kemiskinan yang dialami rakyat setempat akibat para penguasa yang mengatrol sistem sudah menjadi horor sesungguhnya.

Pun, kala momen horor (secara literal) berupa pemandangan tubuh yang perlahan berubah dan melepuh menjadi sebuah kepuasan tersendiri bagai para penikmat gore yang cukup eksplisit. Sayang, ketiadaan variasi mengurangi kenikmatan dalam menyajikan potongan tubuh terurai secara lebih pantas, biarpun yang ditampillan Azhar Kinoi Lubis sudah lebih cukup untuk mengernyitkan dahi maupun menutup mata.

Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa memberikan homage paripurna bagi pendahulunya, pun menyimpan setumpuk relevansi atas apa yang terjadi dewasa ini. Saya menyukai keputusan naskahnya dalam memberikan pesan terkait perlawanan yang dilakukan para perempuan bagi dunia yang terasa sempit akibat dikuasai para laki-laki genit. Salah satunya hadir ketika Bisman yang ingin menyunting Suzzanna bukan sebatas karena cinta, melainkan karena nafsu semata. Ia bahkan berani menggunakan teluh agar sang gadis dapat menjadi miliknya.

Ketika para lelaki lebih mengandalkan otot, para perempuan seperti Suzzanna lebih mengandalkan otak, di mana sebelum ia melakukan santet terhadap pelaku, terlebih dahulu Suzzanna memecah belah mereka. Meskipun tak hadir secara simultan, pesan tersirat perihal emansipasi ini terasa nyata adanya.

Bukan berarti Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa tanpa cela, pengadeganan yang berlarut-larut hingga mencapai 135 menit (durasi terlama dibanding dua pendahulunya) terasa cukup melelahkan, terlebih banyak repetisi semisal momen komedi "air kencing kuda" yang dipaksa hadir sejenak untuk menyulut gelak tawa. Persentasinya tampil fluktuatif, biarpun kehadiran trio linmas yang diperankan oleh Adi Bing Slamet, Ence Bagus, dan Azis Gagap mampu mengatrol filmnya secara meyakinkan.

Itulah mengapa deretan visual yang terlihat mahal (sebagaimana film rilisan Soraya Intercine Films) beserta set-up mewah miliknya tak mampu menghindarklan kesan monoton yang kerap menjangkiti filmnya. Hal tersebut kentara di paruh kedua filmnya yang sempat kehilangan arah akibat tensi yang sebatas dipenuhi oleh deretan repetisi.

Biarpun demikian, Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa memiliki barisan pelakon yang sudah tidak diragukan lagi kemampuannya. Luna Maya berbekal sorot mata dan cara berbicara bak dirasuki jiwa sang almarhumah Suzzanna, demikian pula dengan Reza Rahdian yang seperti biasa, mampu menampilkan degradasi emosi secara meyakinkan. Tak ayal, Azhar Kinoi Lubis pun memanfaatkan kesempatan ini dengan kerap menempatkan kamera secara close-up.

Jika film bertemakan serupa kerap melakukan penghakiman atas apa yang dilakukan, tidak demikian dengan Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa yang enggan mempersoalkan hal tersebut biarpun kehadiran Pramuja diposisikan sebagai kompas moral yang kerap membujuknya untuk bertobat. Perempuan memang berhak melawan apabila dihadapkan pada sebuah ketidakadilan. Pembenaran seperti ini memang layak untuk digaungkan.

SCORE: 3/5 

Posting Komentar

0 Komentar