Tab

Ticker

6/recent/ticker-posts

REVIEW - SENIN HARGA NAIK

 

Judulnya sendiri mengacu pada sebuah slogan dalam dunia pemasaran (utamanya industri properti), di mana jargon tersebut kerap digunakan sebagai gimmick agar konsumen segera mengambil keputusan cepat untuk membeli. Terdengar seperti sebuah tipuan dan jebakan memang, namun demikianlah teknik pemasaran yang terkadang memaksa secara halus. Senin Harga Naik karya Dinna Jasanti secara literal (dan metaforikal) menerapkan hal tersebut dalam sebuah drama keluarga yang mewakili semangat "film lebaran" berkat muatan nilai moral miliknya.

Mutia (Nadya Arina) merasa muak dan memutuskan untuk minggat dari rumah akibat sang ibu, Retno (Meriam Bellina) yang terlalu mengontrol dan mengendalikan hidupnya. Mulai dari urusan pendidikan, asmara, hingga pekerjaan yang membuatnya berakhir dikeluarkan dari perusahaan. Bukannya mencegah atau meratapi kepergiaan sang anak, sang ibu hanya berucap "Kamu tidak akan menjadi apa-apa tanpa ibu!".Demikian jurang perbedaan generasi dan pola pikir yang berserbangan kian bersitegang. 

Selang tiga tahun, Mutia kini adalah seorang sales marketing dengan pencapaian gemilang, keahliannya dalam "merayu secara halus" menobatkannya sebagai salah satu karyawan terbaik yang dimiliki perusahaan. Masalah datang ketika atasannya, Ruli (Hamish Daud) menugaskannya untuk "menggusur lahan" sebuah toko roti bernama Mercusuar, yang mana toko tersebut merupakan milik sang ibu.

Di saat bersamaan, popularitas Mercusuar sebagai toko roti legendaris kian meredup, salah satunya akibat posisi toko yang terkepung oleh rumah yang telah digusur. Amal (Andri Mashadi), si putra sulung kerap membujuk sang ibu untuk pindah bersamanya, namun ia tetap bersikukuhbahkan menuduh sang istri, Taris (Givina) telah memengaruhi sifat sang anak. Retno yang perlahan ditinggalkan oleh sang anak, kini hanya tinggal bersama si bungsu, Tasya (Nayla Purnama).

Naskah buatan Rino Sarjono (Jagat Arwah, Tumbal Darah, Si Paling Aktor) tak melakukan perombakan besar dalam menampilkan drama keluarga, ia setia terhadap pakem yang sudah ada (termasuk menampilkan adegan atap bocor yang entah mengapa menjadi kegemaran sineas kita dalam menampilkan isu kemiskinan). Biarpun demikian, Senin Harga Naik masih menyimpan setumpuk relevansi mumpuni yang senantiasa menghidupkan kisahnya.

Progresi alur memang tak memberikan sebuah kebaruan, bahkan deretan pengadeganannya senantiasa dapat diprediksi secara mudah (baca: konvensional). Beruntung, Senin Harga Naik memiliki jajaran pelakon yang sudah malang melintang dalam urusan mengolah emosi yang kemudian bersinergi dengan penggarapan Dinna Jasanti yang tak hanya mengedepankan hiburan belaka, namun turut melibatkan perasaan di dalamnya.

Kita tahu nantinya, perlahan tapi pasti, Mutia akan berusaha melangsungkan modus operandinya untuk mendapatkan kenaikan jabatan sebagai manajer utama hingga tempat hunian yang diinginkannya. Sebelum momen itu terjadi, kita diajak untuk merajut kembali ikatan yang telah rapuh dan runtuh dalam wujud interaksi keluarga yang perlahan utuh.

Meriam Bellina adalah jangkar utama filmnya. Di balik perangai dan sifat keras yang dimilikinya, Retno menyimpan kerapuhan yang luar biasa dari dalam. Momen ketika ia perlahan tersenyum simpul secara tidak langsungakibat diomeli sang anak perihal menyimpan obat kadaluwarsa adalah perasaan yang selama ini ia inginkan. Bagi Retno, omelan tersebut adalah wujud perhatian yang selama ini urung ia rasakan.

Demikian pula dengan Nadya Arina yang mampu menjadi tandem yang sempurna. Interaksi aktris lintas generasi ini menghadirkan sebuah degradasi emosi yang tak hanya menghantam dari luar, namun menyeruak dari dalam. Begitulah hampir keseluruhan Senin Harga Naik yang terkadang tak memerlukan adegan bombastis untuk menyulut konflik, menjauhkan filmnya dari kesan overly dramatic berbekal momen sederhana yang nyantanya mampu memantik atensi sekaligus urgensi.

Kepiawaian Dinna Jasanti membiarkan filmnya tampil alami adalah hal yang patut diapresiasi. Bukan hanya itu saja, sang sutradara juga menangkap berbagai tempat sebagai saksi bisu di mana kenangan manis pernah dilukis. Dalam diam dan sunyi, tempat tersebut seolah berbicara meskipun tanpa suara. Memory land seperti ini (juga kepiawaian dalam menangai momen kilas balik) senantiasa meruntuhkan tembok perasaan.

Bukan tanpa cela, Senin Harga Naik justru kelabakan dalam menutup kisahnya. Jalinan konflik pula emosi yang akhirnya meledak terkesan dirangkum paksa dalam durasi yang terlampau sederhana. Hal ini membuat potensi filmnya dalam menghadirkan sebuah emosi kontuniti perlahan tersendat dan urung berkembang lebih jauh lagi.

Biarpun demikian, hal tersebut tak mengurangi kenikmatan dalam meresapi filmnya. Senin Harga Naik adalah perihal kepulangan. Layaknya sebuah mercusuar yang tak pernah lelah untuk memendarkan cahaya demi menunjukan arah menuju rumah, kenangan dan pelukan hangat keluarga akan selalu terjaga, walaupun bangunannya sendiri telah berubah. 

SCORE: 3.5/5 

Posting Komentar

0 Komentar