Belum genap lima menit durasi, kita melihat Na Willa (Luisa Adreena) menangis tepat di seberang meja makan pasca mendengar perkataan Mbok (Mbok Tun) yang mengatakan bahwa Na Willa kelak akan mirip seperti Pak (Junior Liem), ayahnya. Ucapan tersebut berdasarkan anggapan banyak orang (dalam film disebutkan sejak bulan Februari) mengenai kecenderungan anak perempuan yang akan mirip bapaknya ketimbang ibunya, begitupun sebaliknya.
Tak butuh waktu lama bagi Mak (Irma Rihi) menanyakan alasan mengapa anaknya menangis. Willa menjelaskan bahwa ia ingin memiliki kulit cokelat dan rambut panjang berbelok-belok seperti dirinya. Dalam rengek tangisnya ia sempat berujar "Kalau Willa terus seperti ini?", sementara Mak berusaha menenangkan sang putri dan menjawab " Tidak, Willa tidak akan begini terus, pasti nanti akan ada yang berubah. Kalau pun nanti jadinya rambut kamu lurus, kamu akan tetap menjadi anak Mak dan Pak." Dengan penuh ketegasan, Mak meminta Na Willa mengulangi ucapannya, Willa pun menurut dan mengucapkannya dengan penuh senyum berbinar.
Begitulah Na Willa, sebuah sophomore Ryan Adriandhy pasca kesuksesannya dalam Jumbo tahun lalu. Ryan yang juga turut merangkap sebagai penulis naskah enggan memposisikan karakter Na Willa sebagai seorang anak polos yang penuh dengan kebodohan atau berlagak dewasa sebelum waktunya. Lebih jauh, Ryan membawa penontonnya untuk sekadar melihat lebih dekat kehidupan lewat sudut pandang anak kecil dengan segala rasa ingin tahu yang besar miliknya, sementara orang dewasa sejenak dibawa menjadi anak-anak sebagaimana yang tagarnya gaungkan.
Gang Kerembangana, Surabaya, 1968 adalah tempat di mana Na Willa tumbuh dan berkembang. Dalam sebuah voice over-nya Willa mengatakan bahwa ia ingin hidup hari ini, esok, dan seterusnya terus begini. Mulai dari bermain bersama ketiga sahabatnya: Ida (Freya Mikhayla), Bud (Ibrahim Arsenio), dan Dul (Azamy Syauqi); ikut ke pasar bersama Mak; hingga minum soda jeruk hasil pemberian Cik Mien (Mellisa Karim). Begitulah kehidupan Na Willa selayaknya kebanyakan anak kecil pada umumnya yang memandang dunia dengan penuh warna-warni yang menyenangkan. Ryan pun memfasilitasi hal ini dengan begitu mumpuni, ketika gambar bergerak secara perlahan, ia bak merealisasikan apa yang dirasakan Na Willa dengan menampilkan sebuah magical surealism yang memanjakan mata.
Singkatnya, kehidupan Na Willa begitu sempurna menurutnya, sampai semuanya perlahan sirna kala Dul, Farida, dan Bud mulai kembali bersekolah, meninggalkan Na Willa yang hanya bisa berdiam diri di rumah. Kesepian yang dirasakan Willa adalah salah satu konflik utama filmnya, sementara kekhawatiran Mak (juga orang tua pada umumnya) adalah kala belum siap untuk melepas sang anak kepada realita yang penuh durjana.
Untuk itulah, Mak memutuskan untuk mengajarkan membaca dan menulis kepada Willa di rumah. Pun, saat waktunya tiba untuk bersekolah, kekhawatiran dan ketakutan Mak akhirnya tiba juga, ia mendapati sang buah hati merengek dan mengatakan bahwa ia tak ingin bersekolah pasca Ibu Tini (Putri Ayudya) memperlakukan Na Willa sebagai anak baru yang belum bisa membaca dan menulis.
Diposisikan sebagai film semua umur yang mengisi slot film lebaran, Na Willa mungkin tidak dipenuhi beragam konflik yang membuat filmnya terkesan berat maupun penuh sesak. Filmnya sendiri lebih cenderung mendekati slice of life yang dilakukan oleh Na Willa bersama orang yang mengisi hari-harinya. Sekali lagi, Ryan memang memposisikan penonton lewat sudut pandang anak kecil berusia 6 tahun dengan segala keingintahuan dan kepolosannya yang begitu besar. Dan apa yang ia presentasikan memang sebuah film yang sewajarnya dibuat untuk keluarga.
Keseharian semisal melihat jenis-jenis obeng, transformasi ulat yang menjadi kepompong hingga hal yang hanya akan diketahui oleh orang dewasa disulap menjadi suguhan yang luar biasa. Dunia sekitar bagi anak kecil seusia Na Willa nyatanya begitu besar, bahkan selepas sebuah insiden memilukan menimpa salah satu karakternya, Ryan secara tegas enggan menambahkan sebuah dramatisasi. Disulapnya tragedi menjadi sebuh komedi berlatar musikalisasi, di mana nomor trek berjudul Sikilku Iso Muni ciptaan Leleilmanino menghiasi sebuah sekuen yang saya yakin akan menjadi sebuah urgensi tersendiri.
Luisa Adreena berbekal senyum berbinar dan rengekan dan tangisan yang tak jarang menguar menampilkan sebuah performa besar bagi keseluruhan filmnya. Hal ini berlakuk pula bagi para pemeran cilik lainnya yang tampil begitu natural. Sementara itu, sebagai pemain dewasa Irma Rihi mampu menjadikan figur Mak sebagai sosok yang senantiasa mengasihi dan tegas sekalipun. Dari sini kita melihat relasi ibu-anak yang benar-benar terasa nyata, sebagaimana korealsi anak dan orang dewasa sebagaimana mestinya.
Disusun secara episodik (sebagaimana novel tulisan Reda Gaudiamo yang merupakan adaptasi resmi filmnya), Ryan senantiasa menjaga tensi filmnya dengan sebuah presisi di mana drama serta komedi hasil kepolosan karakternya menjadi sebuah pemandangan yang efektif menciptakan hiburan dan tawa lepas penonton. Tak lupa, di balik itu semua ia pun menyelipkan sebuah nilai moral sederhana yang menghasilkan sebuah makna yang besar setelahnya.
Semisal keharusan untuk senantiasa bersikap jujur dalam berkata, Mak mengibaratkan bahwa ketika kita berbohong layaknya menggenggam sebuah kerikil tajam. Hal ini ditampilkan secara kontuniti oleh filmnya bahkan dijadikan sebuah titik balik sarat urgensi. Lebih jauh, Ryan menambahkan subteks yang tak kalah penting, yakni perihal pertumbuhan dan perubahan yang sulit untuk dihindarkan.
Menjelang konklusi, Na Willa (dan kita) turut mengamati sebuah metamorfosis ulat yang perlahan berubah menjadi kupu-kupu. Secara tersirat Ryan menggambarkan sebuah perubahan yang benar adanya. Sekali lagi, Na Willa adalah perihal tumbuh kembang dan peran orang dewasa untuk menghadapi segala realita dunia yang mungkin lebih luas daripadanya.
Seperti Na Willa yang akhirnya mencoba sirup merah di warung Cik Mien setelah sevelumnya lebih memilih soda oren (yang menurutnya nyekruz), di saat yang bersamaan Willa akhirnya membuka sebuah lembaran baru di tempat yang sama setelah sebelumnya memilih zona amannya. Na Willa bukan hanya sekadar tontonan anak biasa, bagi penonton dewasa ia adalah sebuah kapsul waktu di mana kenangan akan masa kanak-kanak yang penuh akan kepolosan perlahan digantikan oleh kehidupan (sebenarnya). Ryan Andriandhy paham betul bagaimana menyeimbangkannya.
SCORE: 4.5/5

0 Komentar