Tab

Ticker

6/recent/ticker-posts

REVIEW - BACKROOMS

 

 

Bermula dari sebuah creepypasta internet yang lebih dahulu dikembangkan oleh Kane Parsons, selaku sutradara (dalam proses produksi film ini beliau genap berusia 20 tahun) lewat seri web berjudul sama yang telah tayang pada tahun 2022 hingga 2025, Backrooms menjadi sebuah fenomena tersendiri, di mana bujet rendah (di bawah $10 juta) mampu mendulang kesuksesan dengan menghasilkan lebih dari $330 secara global. Sebuah kesuksesan yang luar biasa sekaligus menandai film produksi A24 terlaris sejauh ini, menggeser Marty Supreme (2025) hingga Everything Everywhere All at Once (2022).

Di samping itu, Backrooms pun menandai era kejayaan film horor hasil buah tangan "sineas Youtuber" menyusul judul-judul seperti Obsession (Curry Barker), Iron Lung (Markiplier), Shelby Oaks (Chris Stuckmann) hingga Talk to Me dan Bring Her Back (Michael Philippou, Danny Philippou) yang kerap menampilkan tajinya dengan penyutradaraan yang tak kalah mumpuni. Era baru pun dimulai.

Ceritanya sendiri mengetengahkan kisah Clark (Chiwetel Ejiofor), seorang arsitek gagal yang banting setir menjadi pemiliki toko furnitur (yang juga gagal). Guna mengatasi hal tersebut, ia memilih untuk berkonsultasi dengan Dr. Mary Kline (Renata Reinsve). Mulai dari kehidupan pribadi hingga prahara rumah tangganya yang berada di ujung tanduk ia ceritakan kepada Mary, meski sebelumnya ia kerap tenggalam dalam dunia alkohol yang memabukkan.

Interaksi keduanya menghasilkan sebuah banter yang menarik. Pun, seiring berjalannya durasi, kita pun mengetahui bahwa sang terapis pun tak kalah terluka, trauma masa kecil hingga kondisi sang ibu kerap menghantui pikiran Mary. Sederhanya, baik Clark maupun Mary adalah dua orang penuh luka yang berbagi kisah serupa dibalik resminya percakapan mereka.

Akibat sepi pengunjung, Clark pun memutuskan untuk bermalam di toko miliknya. Perlahan, ia cukup terganggu dengan lampu toko yang terus-menerus berkedip hingga memanggil teknisi pun ia lakukan. Hasilnya pun nihil. Penasaran dengan apa yang terjadi, Clark menyusuri ruangan demi ruangan yang kemudian menghantarkannya pada ruang belakang (backrooms) yang ternyata tak pernah ia duga keberadaannya.

Ruang liminal benuansa kuning-kehijauan menjadi sebuah manifestasi atas luka dan trauma para karakternya. Di tangan Parsons, ruang penuh lorong dan benda-benda familiar tersebut menjadi sebuah medium yang sarat akan substansi, di mana kecemasan pula kehampaan senantiasa mengiringi. Itulah mengapa terornya tampil lebih mencekam, karena baik penonton maupun karakternya berjuang di tengah hamparan ruangan tak berujung penuh ketidaktahuan.

Ketidaktahuan tersebut dimanfaatkan secara cerdik oleh Parsons, sesekali ia menerapkan teknik kamera dengan gaya mokumenter (yang menjadi ciri khas seri web-nya) yang menciptakan kecemasan kian berlipat. Kegemaran Parsons pun tampil berlarut-larut, seolah ia kagum dengan dunia ciptaannya, meski setelahnya ia mampu mengembalikan atensi terhadap apa yang hendak akan terjadi secara tak terduga.

Ditemani gubahan musik yang digarap langsung olehnya bersama Edo Van Breemen, Backrooms tampil mencekam berkat kepiawan kamera hasil bidikan Jeremy Cox yang mencuatkan kesan liminal. Kebolehan Parsons pun mengambil alih tensi semakin tinggi, terlebih semenjak Clark mengajak kedua pegawainya, Kat (Lukita Maxwell) dan Bobby (Finn Bennett) masuk ke dalam backrooms dengan iming-iming gaji yang berlipat. Dari sinilah, naskah buatan Will Soodik mengambil jalur yang lebih berani sekaligus memberikan kelokan setelahnya.

Kelokan itu hadir tatkala Mary ikut terjebak dalam backrooms berbekal ketidaktahuan dan rasa penasaran yang selama ini Clark sampaikan. Renate Reinsve piawai menyuntikkan emosi dalam mengarungi semesta ruang liminal yang tak berujung dan penuh tanda tanya ini, demikian pula dengan Parsons yang kian menggila dalam menjawab serta menghadirkan sebuah teror sarat keanehan dan kecemasan yang mengganggu pikiran.

Backrooms adalah sajian yang menolak tunduk terhadap pakem. Kane Parsons memberikan sebuah kedalaman dalam dunia absurd nan cantik layaknya pameran seni beserta kecemasan dan kehampaan yang urung untuk mengendur. Surealisme semacam ini selain menambah variasi genre turut pula memberikan sebuah kesegaran yang selama ini penonton umum inginkan. Sudah saatnya sineas muda seperti Parsons mendobrak aturan dan menciptakan dunia sarat kreativitas tanpa batas.

SCORE : 4/5 

Posting Komentar

0 Komentar