Harus diakui Warkop DKI: ViRaLiN dOoOoNg..!! adalah sebuah usaha untuk menjauhi embel-embel "reborn" sebagaimana yang telah dilakukan empat film sebelumnya. Usaha modernisasi seperti ini jelas mempunyai tujuan untuk menyasar generasi masa kini. Dinakhodai oleh Herwin Novianto (juga bertindak selaku penulis naskah bersama Theo Arnoldy, Daryl Wilson, dan sang konsultan komedi filmnya Dany Beler), Warkop DKI: ViRaLiN dOoOoNg..!! mungkin terkesan fluktuatif, meskipun usaha tersebut tidak sepenuhnya tampil negatif.
Dono (kini diperankan oleh Deddy Mahendra Desta menggantikan Abimana Aryasatya hingga Aliando Syarief), Kasino (Vino G. Bastian), dan Indro (Tora Sudiro) baru saja dipecat dari pekerjaannya masing-masing berkat keteledoran berbalut kesialan (sebagaimana film Warkop DKI pada umumnya). Demi terlepas dari jurang kemiskinan, tercetuslah ide untuk membuat konten di YouTube berdasakan tren yang kini tengah digandrungi masyarakat umum, mulai dari prank, mukbang, hingga penelusuran (sarat kebohongan) mereka lakukan demi merengkuh status "viral'.
Paruh pertama Warkop DKI: ViRaLiN dOoOoNg..!! diisi oleh serangkaian usaha Dono, Kasino, dan Indro dalam membentuk saluran 'NDOKASIN' yang ternyata tercipta berdasarkan kalender bergambar bebek dan telur asin. Sebuah ide cukup kreatif meski jauh dari kesan baru. Begitulah keseluruhan filmnya yang hanya terdiri dari sketsa demi sketsa adegan yang dirajut guna menyulut tawa penontonnya.
Puncaknya adalah ketika Dono, Kasino, dan Indro menyambangi sebuah kota fiktif bernama Kolima, di mana pagelaran seni dan budaya masayarakat setempat tengah berlangsung. Dari sini, Warkop DKI: ViRaLiN dOoOoNg..!! banting setir ke ranah horror-comedy, mengingat ide cerita filmnya turut melibatkan para sineas ternama Tailan seperti Banjong Pisanthanakun, Thamsatid Charoenrittichai, dan Ter Chantavit Dhanasev.
Dari sini, alur Warkop DKI: ViRaLiN dOoOoNg..!! turut terjaga ritmenya, meskipun baru tampil menjelang babak kedua filmnya. Beragam komedi dengan nuansa horor tampil berlipat ganda, demikian pula dengan riuh suara penonton yang kerap terlontar seiring durasi 120 menit filmnya. Itulah mengapa filmnya tampil sesuai tujuan, meski terkait cerita timbul sebuah persoalan lain.
Saya paham, para pembuatnya ingin menampilkan semangat serupa film orsinal Warkop DKI dengan segala ciri khasnya. Dari tampak luar filmnya, Herwin Novianto sukses menampilkan hal tersebut, meski terdapat beberapa catatan, khususnya terkait penokohan Dono yang kini diperankan oleh Deddy Mahendra Desta. Dalam filmnya, Dono kerap melontarkan kritik terhadap pemerintah (bahkan secara vokal di berbagai kesempatan durasi). Tanpa mengaitkan masalah pribadi personal pelakonnya yang sempat menari-nari mendukung pemerintahan rezim, hal tersebut menciptakan sebuah cela terkait urgensi yang belum dipahami sepenuhnya bagi pembuat maupun pelakon utamanya.
Kita tahu, film orsinal kerap menggambarkan beragam selorohan hingga celotehan terhadap pemerintah sebagai gambaran masa depan (pula masa itu) guna menampilkan sebuah sindiran nyata, bahkan ketika para karakater melakukan perlakukan seksis pun langsung mendapatkan ganjaran di depan mata. Sayangnya, Warkop DKI: ViRaLiN dOoOoNg..!! belum memahami esensi dan urgensi tersebut.
Catatan lain timbul ketika menjelang penutup durasi filmnya, di mana Dono, Kasino, dan Indro tengah mengendarai mobil dan bertemu dengan rombongan wanita berpakaian terbuka. Mereka berujar "nah ini baru Warkop!" dengan persaan penuh senyum gembira. Lagi-lagi permasalahan seperti di atas terulang, di mana esensi dan urgensi sama sekali tidak diperhatikan, terlebih status Warkop DKI: ViRaLiN dOoOoNg..!! bertujuan untuk menyasar para generasi muda (sejalan dengan rating usia 13+ yang dipilih filmnya). Seharusnya, para pembuatnya sadar bahwa hal tersebut sudah tidak lagi relevan di masa sekarang.
SCORE : 2.5/5

0 Komentar