Selain horor, sajian drama-religi masih menjadi primadona bagi penonton Indonesia dewasa ini. Kedekatan representasi berbasis ajaran agama Islam (menilik mayoritas ajaran yang dianut) masih menjadi senjata ampuh dalam membius minat pangsa pasarnya, tambahkan slogan "berdasarkan novel best-seller" yang seolah menjadi kebanggan rumah produksi yang menaungi.
Setetes Embun Cinta Niyala yang merupakan adaptasi novel (meski sebenarnya lebih tepat disebut novelet, karena dimuat dalam novel Pudarnya Pesona Cleopatra) karya Habiburrahman El Shirazy (Ayat-Ayat Cinta, Dalam Mihrab Cinta, Bumi Cinta, Ketika Cinta Bertasbih) menambah jajaran tersebut dengan membawa segala trope klasik yang mungkin kurang relevan di zaman sekarang.
Isu perihal perjodohan orang tua demi melunasi hutang dengan alasan berbakti, budaya patriarki, hingga ketiadaan kebebasan seorang perempuan atas dasar qodrat menghiasi rentetan konflik yang masih dipertahankan tanpa tambahan oleh Oka Aurora (Laut Tengah, Ipar Adalah Maut, Norma: Antara Mertua dan Menantu), menjadikannya tak lebih dari tontonan khas FTV yang dialihwahanakan ke dalam platform digital demi menghiasi sajian tontonan lebaran.
Semenjak ditinggal sang ibu, Niyala (Beby Tsabina) memutuskan untuk pergi ke Jakarta demi melanjutkan pendidikan dokter, mengikuti Ambar (Alya Rohali), ibu dari Faiq (Deva Mahenra), teman semasa kecil yang diam-diam menaruh perhatian lebih kepadanya, begitupun sebaliknya dengan Niyala.
Selama Niyala kuliah di Jakarta, sang ayah (Ayez Kassar) bersama kakaknya (Imran Ismail) memiliki hutang sebesar 300 juta kepada Pak Cosmas (Kiki Narendra), Kades setempat yang akan membebaskan hutangnya apabila Niyala menikah dengan putra semata wayangnya, Roger (Dito Darmawan), pria yang sering mengganggunya semasa kecil.
Selanjutnya, Setetes Embun Cinta Niyala praktis hanya berkutat mengenai dilema dan kegamangan yang dialami Niyala dalam bentuk repetisi adegan berupa pelarian sekaligus renungan Niyala yang selalu menyendiri sembari melihat pemandangan ombak dan pantai di depan rumahnya. Saya paham maksud Anggy Umbara (Vina: Sebelum 7 Hari, Kromoleo, Setan Botak di Jembatan Ancol) dalam memberikan definisi tawakal-nya Niyala, yang merupakan wujud perempuan shalihah, namun film adalah medium yang bebas, selama para pembuatnya mampu mengolah representasi alih-alih sebatas berdiam diri.
Seolah tak cukup dengan konflik di atas, hadirlah karakter bernama Diah (Caitlin Halderman), calon istri Faiq lewat perjodohan yang disusun oleh kedua orang tua. Jika tak ingin disebut usang, Setetes Embun Cinta Niyala jika dilihat dari kaca mata masa kini jelas sudah ketinggalan zaman dan tak lagi relevan. Perjodohan atas dasar apapun mungkin masih kerap terjadi, namun ketika film religi lain sudah merangkak dan berkembang ke arah yang lebih, Setetes Embun Cinta Niyala bak sebuah kemunduran.
Narasinya pun tampil stagnan. Pengadeganan pun dipenuhi pengulangan yang tak berarti, demikian pula dengan performa Beby Tsabina yang tak memberikan range emosi yang cukup kuat, ia hanya sebatas menafsirkan kegamangan dengan lamun dan tatapan kosong. Jelas ini bukan performa terbaiknya. Deva Mahenra masih pun tampil bermain aman, justru Caitlin Halderman yang paling bersinar sebagai karakter ketiga yang menyelamatkan filmnya meski dalam penyibakan tabir yang klise. Setidaknya, karakter Diah tampil bertenaga dan yang paling logis diantara yang lain.
Seolah kekurangan amunisi, konklusinya pun mengandalkan sepenuhnya pada sebuah twist yang akan memancing tanya berupa cacat logika. Twist yang sebatas menghentak dan hadir begitu saja tanpa sebuah indikasi sebelumnya. Dari sini, lengkap sudah hasil akhir filmnya yang menyatakan bahwa saya bukanlah target pangsa pasar utamanya.
SCORE : 1.5/5
0 Komentar